a very yuppy wedding (part 2)
Monday, October 29th, 2007very honest! itu mungkin kata-kata yang tepat untuk mendeskripsikan cerita novel karya Ika Natassa ini. gimana enggak? melalui tokoh Andrea, dalam novel ini sang novelis begitu gamblang mengungkapkan perasaannya terhadap pria idamannya.. Hal ini terlihat dari pengakuan Andrea di akhir cerita (hal 282): Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya akan mengakui hal ini…
Mungkin beberapa kutipan kalimat berikut ini bisa menunjukkan betapa detail dan jujur sang novelis dalam mendeskripsikan perasaan dan observasinya:
<1> hal 13: …Bodoh kan, untuk manja-manjaan aja harus lewat e-mail, padahal aku duduk cuman lima meter dari mejanya. <2> hal 28: Ia melihat saat aku menyentuh pipiku yang terasa gatal tertusuk janggut halusnya. hal 29: Di Adjie, janggut itu terlihat seperti bintik-bintik biru di kulitnya yang putih. Dan hari ini, disaat sudah dua hari dia tidak bercukur, bintik-bintik itu berubah menjadi garis-garis yang membingkai wajahnya. Ia rajin salat, tidak merokok, sangat cool, dan tidak sok jago walau dia pintar.<3> hal 35: Alisnya hitam tebal. Bibirnya tipis berwarna segar. <4> hal 47: Ia suka memasukkan potongan besar dalam mulutnya, mengunyah sampai pipinya bergoyang-goyang, bahkan terkadang sampai belepotan di sekeliling bibirnya.<5> hal 60: ..sedangkan Adjie asli Jawa Solo <6> hal 65: Adjie dan aku nggak satu kampus. Dia di Trisakti. <7> hal 109: …dan dasi Hugo-nya? Ganteng. <8> hal 112: Kalau misalkan ini video game Super Mario Bros, dan Adjie adalah Mario sedangkan aku putrinya.. <9> hal 126: …Muhammad Adjie Soerjosoemarno… <10> hal 176: Adjie itu paling jago kalo ngambek, mau seminggu atau lebih juga dijabanin.
Dari 10 kutipan di atas, rasanya sudah cukup untuk mengambil kesimpulan seperti apa sih pria idaman sang novelis ini, atau bahkan pertanyaan siapa sih sebenarnya Adjie ini. Yaah, tentu kita (saya) cuma bisa menebak, yang tau 100% adalah novelisnya sendiri.. walaupun sebenarnya saya sangat ingin mengutip kata-kata Firman (temannya Andrea di novel) di halaman 40: Percaya deh ama gue, ini bukan sekedar teori, ini fakta.